Syiahislam’s Blog

Just another WordPress.com weblog

  • September 2014
    S S R K J S M
    « Apr    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Komentar Terakhir

Negara Syariah (Negara Islam)

Posted by syiahislam pada April 11, 2009

Negara Syariah (Negara Islam) adalah negara yang perundang-undangannya (Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang/Peraturan dibawahnya) bersumber dari Syariah Islam.

1.   Dalam Negara Syariah (Negara Islam), nama Parlemennya harus berlabel Islam, misalnya: Majelis Permusyawaratan Islam; Dewan Islam; Kongres Islam; Dewan Persatuan Islam; dsb, yang keanggotaannya berdasarkan persyaratan tertentu menurut Syariah Islam.

2. Dalam Negara Syariah (Negara Islam), Lembaga Yudikatifnya bernama Mahkamah Agung Syariah atau Mahkamah Agung Islam, yang merupakan satu-satunya pemegang kekuasaan peradilan.

3. Dalam Negara Syariah (Negara Islam), Pemerintah berkewajiban memberi pendidikan dan pengajaran agama Islam kepada umat, maka harus dibentuk: Direktorat Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam, yang menjadi bagian dari Kementerian Syariah Islam. Setiap warga muslim WAJIB mengikuti Pendidikan Dasar Agama Islam (PDAI).

4. Dalam Negara Syariah (Negara Islam), Pemerintah mempunyai kewenangan untuk memungut Zakat dari Muzakki, mengelola dan mendistribusikannya kepada Mustahik, dengan cara yang sesuai dengan Syariah Islam.

5. Dalam Negara Syariah (Negara Islam), Pemerintah (c.q. Kementerian Syariah Islam) berkewajiban memberi pelayanan Pengurusan Jenazah kepada setiap jenazah warga muslim, termasuk memberi santunan kepada ahli warisnya.

Marilah mendukung Mujahiddin (Ibnu Sabil) di Irak, Afghanistan, Palestina, Mujahiddin di Thailand Selatan dan di Filipina Selatan, dan di tempat-tempat lain, yang telah rela mengorbankan waktu, tenaga, harta bahkan jiwanya di Jalan Allah dalam rangka menunaikan perintah Allah untuk menegakkan Syariah-Nya, karena tujuan dari Jihad adalah menegakkan Negara Syariah (Negara Islam) dan Jihad merupakan Puncak Ibadah (Ibadah Tertinggi) sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Setiap agama memiliki puncak pengabdian (Ibadah), dan puncak pengabdian (Ibadah) dalam Islam adalah Jihad.”

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Syiah & Sunni Masa Kini

Posted by syiahislam pada April 11, 2009

Secara historis, perbedaan antara Syiah dan Sunni berawal dari timbulnya isu sentral tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin Negara Islam (Khilafah) pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Faksi Syiah berpendapat bahwa Kursi Khilafah harus diberikan kepada Ali bin Abi Thalib (sepupu dan menantu Nabi) tanpa perdebatan dan tanpa melalui Syura yang melibatkan faksi-faksi umat Islam lainnya.

Tidaklah mengherankan bila para pengikut Syiah sedikitpun tidak dapat menyembunyikan perasaan antipati mereka terhadap Khalifah- khalifah sebelumnya; Abu Bakar, Umar dan Usman yang mereka anggap sebagai perampas hak suci Ali. Juga mereka tidak berusaha menyembunyikan rasa permusuhan terhadap faksi Sunni yang untuk beberapa generasi mendukung Khalifah-khalifah sebelumnya yang diangkat oleh Syura, bukan turun temurun (Monarki).

Penyebab Historis

Isu politik yang menelorkan inti perbedaan Sunni dan Syiah adalah Imamah yang berarti Kepemimpinan Negara Islam (Khilafah) pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Bagi faksi Syiah (yang menginginkan kepemimpinan negara dipegang oleh Dinasti Ali bin Abi Thalib), Imamah dianggap sebagai amanah suci yang bukan saja merupakan hak bagi Ali bin Abi Thalib tetapi juga bagi orang-orang tertentu dari keturunannya (yang menyebabkan terpecahnya Syiah menjadi beberapa kelompok).

Dalam mazhab Syiah, Imam haruslah ditunjuk berdasarkan wahyu dari Tuhan, bukan dari pilihan umat, seperti yang dikehendaki Sunni. Atribut Ma’shum (Terpelihara dari dosa / kesalahan) tidak hanya ada pada diri Rasul, tetapi para Imam pun mempunyai atribut serupa. Perbedaan dikalangan Syiah timbul sebagai akibat dari pandangan yang berbeda tentang Imam-Imam yang datang kemudian, sehingga berdirilah faksi-faksi yang terpisah, beberapa diantaranya masih bertahan hingga saat ini seperti: Zaidiyah, Jaanariyah dan Ismailiyah. Faksi-faksi ini mendapatkan namanya sesuai dengan nama-nama para Imam yang mereka anggap sebagai pemimpin pasca Ali. Syiah memiliki kelompok-kelompok pendukung seperti NUSAYRIS (di Suriah) dan DRUZE (di Suriah, Palestina dan Lubnan). Mereka dianggap sebagai Syiah dan termasuk dalam keanggotaan Dewan-Dewan lokal organisasi Syiah. Bagi Syiah, mereka yang menjadi pengikut Muhammad bin Hanafiah (saudara tiri Hasan dan Husein dari lain ibu) bukanlah termasuk Syiah, dan memang saat ini faksi ini tidak terdapat lagi.

Faktor-faktor regional dan etnik turut memberikan andil bagi terbelahnya Sunni dan Syiah. Bagi kedua golongan ini, agama dapat dijadikan unsur pembenaran dan tempat mencari pembelaan yang tepat. Pembedaan etnik yang tergambar pada konflik budaya antara Persia dan Arab (Syuubiah) turut bertanggung jawab bagi kesuburan mazhab Syiah untuk berkembang dikalangan bangsa Persia.

Dikalangan Sunni, bangsa Barbar yang semula menguasai Afrika Utara dan kemudian masuk Islam setelah mengadakan perlawanan panjang terhadap Islam, memilih identitas sendiri. Mereka lebih cenderung mengikuti mazhab Maliki daripada mazhab Hanafi (yang kemudian tersebar luas di Baghdad dan pulau-pulau sebelah timur kekuasaan Dinasti Arab Abbasiyah).

Bangsa Persia kemudian memiliki Syiah, untuk selanjutnya secara bertahap ajaran-ajaran mereka berkembang menjadi ajaran yang independen dan tidak lagi terbatas pada isu-isu politik dan pemerintahan. Profesor Fazlur Rahman memberikan gambaran: “seseorang dapat mengatakan bahwa Syiah untuk beberapa saat merupakan fenomena protes, hingga faham Syiah berkembang dan mempunyai sistem Theologis sendiri dan independen. Pada mulanya protes sosial maupun politik timbul sebagai reaksi dari posisi tertekan oleh pengaruh Arab, terutama disaat-saat Dinasti Arab Umayyah sedang berkuasa. Protes berubah bentuk menjadi gerakan reformasi dan untuk selanjutnya menjadi sebuah mazhab tersendiri.” (Cambridge History of Islam, vol. 2 b hal. 632-633).

Bangsa Kurdi dan Turki menganut mazhab Hanafiah. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena mereka mendapat kesempatan untuk ikut dalam pemerintahan (yang menerapkan mazhab Hanafiah sebagai Undang-Undang resmi negara) dan pernah memegang kekuasaan, misalnya pada pemerintahan Dinasti Ayubiyah, Turki Seljukiyah dan Arab Mamlukiyah. Sedang mazhab Syiah belumlah menjadi Undang-Undang resmi negara Iran, hingga Syah Ismail (907-930 H. / 1501-1524 M.) memimpin Dinasti Iran Safawiyah (Safavid), dimana terjadi perseteruan dengan Dinasti Turki Usmaniyah (Ottoman) yang menerapkan mazhab Hanafiah.

Perbedaan psikologis dan doktrinal menjadi semakin tajam antara Sunni dan Syiah setelah terjadinya berbagai peristiwa sejarah. Ulama Sunni dan Syiah pada masa itu patut bertanggung jawab dalam menciptakan atau mempertahankan (secara sadar atau tidak) kesenjangan dan ketegangan yang ada antara kedua kelompok tersebut.

Faktor-faktor politis dewasa ini telah pula memperlebar jurang antara Sunni dan Syiah. Syiah di Irak senantiasa berupaya memberikan dukungan bagi Iran, sementara Syiah di Suriah dan Lubnan mencoba memperoleh dukungan kepada nasionalisme Arab. Perdebatan regional telah membawa Iran-Irak ke kancah peperangan. Perbedaan-perbedaan etnik, historis dan faham telah pula dieksploitasi, khususnya oleh penguasa Irak (saat perang Iran-Irak).

Kesenjangan antara Sunni dan Syiah menjadi semakin parah sejak pihak Barat menerapkan politik Pecah-Belah (Devide et Impera) pada negeri-negeri muslim. Mereka berupaya memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang terdapat antara Sunni dan Syiah. Dan saat ini, di Irak dan Lubnan, Barat kembali menerapkan politik yang sama.

Bahkan banyak cendekiawan Barat yang punya bidang study Islam, lebih senang menggunakan istilah Islam Sunni dan Islam Syiah, yang memberi kesan seolah-olah ada dua agama yang berbeda (sebagai bagian dari strategi adu domba mereka).

Interaksi Sunni-Syiah

Perkembangan sejarah yang memperlebar jurang pemisah antara Sunni dan Syiah haruslah dibahas, dianalisa dan dihubungkan satu sama lain dengan tepat dan seksama. Negara-negara Muslim dituntut untuk memperbaiki jembatan dan mempersempit bahkan menghilangkan sama sekali kesenjangan dalam usaha memelihara stabilitas dan kesejahteraan umat, sehingga mampu menghadapi kekuatan-kekuatan yang menunjukkan permusuhan.

Golongan Sunni senantiasa menunjukkan penghargaan dan cinta kasih mereka terhadap keluarga Rasul seperti Ali, Abbas, Hamzah, Hasan, Husein, Zainal Abidin, Ja’far, Khadijah, Aisyah, Fatimah, Ruqayyah, Zainab, dan lain-lain. Nama-nama ini sangatlah populer dikalangan Sunni sampai saat ini. Lima kali dalam sehari didalam sholat, mereka berdoa untuk kesejahteraan bagi Muhammad dan keluarganya.

Mereka memandang Imam-imam seperti Ali, Husein, Zainal Abidin, Muhammad Baqir, Ja’far Sadiq sebagai contoh utama yang mempunyai kepribadian, bermoral dan berilmu tinggi. Sumber-sumber Sunni tidak sedikit mengandung ajaran-ajaran dan pelajaran tentang Imam-imam tersebut. Bahkan doktrin Akidah dan Syariah banyak sekali yang didasarkan pada pelajaran mereka.

Abu Hanifah (wafat tahun 150 / 757) seorang ulama Sunni mempunyai hubungan yang akrab dengan Imam Ja’far Sadiq (wafat tahun 148 / 755). Syafi’i dihukum oleh pemerintahan Dinasti Abbasiyah, karena simpati yang ditunjukkannya terhadap keluarga Ali. Imam Zaid, pendiri faksi Zaidiyah (salah satu faksi didalam Syiah yang sampai kini masih mempunyai sejumlah besar pengikut di Yaman) mempunyai hubungan dekat dengan para Ulama Sunni terkenal. Dia mengakui Khalifah-khalifah terdahulu sebelum Ali, meskipun dia beranggapan bahwa jasa dan kedudukan Ali lebih tinggi dari mereka. Dia berpendapat, bahwa seorang Imam sejati haruslah menyerukan perlawanan terhadap kezaliman. Dalam hal ini berbeda dengan Taqiyyah (keimanan yang disembunyikan), salah satu ajaran Syiah yang cukup dikenal. Adalah sangat mungkin Taqiyyah berawal dari reaksi terhadap tekanan yang mereka dapatkan sejak beberapa generasi.

Seperti disebutkan, Imam dalam keyakinan Syiah memiliki atribut Ma’shum. Karena dianggap menerima ilham dan petunjuk, maka perkataan dan perbuatan Imam mempunyai otoritas wajib sebagai sumber Badan Legislatif. Kelompok Sunni tentu saja tidak dapat menerima ajaran ini, namun dapat menghargai pendapat Imam sekadar sebagai Ijtihad.

Kumpulan Hadits kaum Syiah seperti kitab al Kafi (oleh Kulaini) memuat teks-teks (matan) yang secara eksklusif diambil dari para Imam dan para pendukung mereka. Namun pada koleksi Sunni (misalnya kitab Shahih Bukhari) dapat ditemui Hadits-hadits yang mempunyai maksud serupa atau bahkan lafadznya pun sama seperti yang terdapat pada koleksi Syiah.

Banyak hukum-hukum yang disebutkan dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para Ulama Sunni adalah hasil adopsi dari ucapan-ucapan dan perbuatan para Imam Syiah. Bahkan tidak jarang mereka ikut mendukung ajaran tersebut. The Cambridge History of Islam menunjuk adanya indikasi bahwa kelompok Syiah dan Khawarij menerima Hukum Islam versi Sunni untuk selanjutnya berkembang dan membuat perubahan yang tak berarti selaras dengan tuntutan politis dan dogmatis tertentu.

Hubungan yang kuat, dapat ditelusuri pada Ilmu Hukum Ja’fari ( Syiah) disatu pihak, dengan mazhab Hanafi (Sunni) di pihak lain. Persamaan pandangan Hukum dapat ditemui pada Keputusan-keputusan yang diambil oleh Qadhi Nu’man sebagai Hakim pada Dinasti Fathimiyah-Ismailliyah (Syiah) dengan ajaran Imam Malik (Sunni) yang mazhabnya cukup dominan di Afrika Utara dan tertanam kuat di Mesir.

Dalam suatu pengertian, Syiah adalah Sunni, karena mereka percaya bahwa Sunnah Nabi adalah sumber tertinggi kedua setelah al Quran. Sebaliknya Sunni adalah Syiah, karena mereka juga menghormati keluarga Nabi.

Para Imam Syiah saat ini dituntut untuk melihat kembali warisan doktrin yang mereka terima yang membentuk pandangan mereka terhadap Khalifah-khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman. Sementara para Ulama Sunni pun dituntut untuk menengok kembali kepada pendapat umum mereka tentang para pemimpin Monarki Umayyah. Pengamatan yang akurat hendaknya dilakukan. Seorang Penguasa dapat saja dipuji dengan sebuah pernyataan yang sangat umum, tapi dapat pula dianggap gagal dalam memenuhi persyaratan yang seharusnya dimiliki oleh seorang Pemimpin seperti yang ditunjukkan oleh al Quran dan Sunnah. Memang diakui bahwa Raja-raja Dinasti Arab Umayyah telah memberikan andil yang besar terhadap perkembangan Islam, namun hasil yang mereka capai cenderung bermotif loyalitas dan pengabdian bagi Kejayaan Dinasti mereka sendiri (dimana secara moral dan material mereka mendapatkan hasil) daripada dilandasi motif ajaran Islam.

Walaupun Muawiyah adalah sahabat Nabi, namun dia tidak dijamin lepas dari kesalahan. Abu Bakar, Umar dan Usman adalah tokoh-tokoh yang mendapat tempat tersendiri dikalangan sahabat namun mereka tidak jarang dimintai keterangan tentang keputusan yang mereka ambil atau tingkah laku yang mereka perbuat. Dan bahkan mereka tidak luput dari kritik dimuka umum sekalipun. Menurut ajaran Islam, seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas pengambilan keputusan. Dan bila keputusan dapat dibahas dan dimusyawarahkan disaat dia masih hidup kenapa harus menjadi tabu membahasnya setelah kematiannya.

Study Historis dimaksudkan untuk menjadi petunjuk yang jujur bagi generasi mendatang. Mengakui kedudukan keagamaan tertentu pada sahabat Nabi tidak berarti bahwa mereka sama dalam perilaku etis dan pemikiran. Pembahasan yang menyinggung Keutamaan Para Sahabat (al Mufadalatu Bayna al Sahabah) dapat ditemui pada karya-karya para Ulama Muslim pertama tentang Akidah, Syariah dan Sejarah. Dahulu, penghormatan terhadap seseorang tidak akan cenderung pada kultus individu yang memang Islam amatlah keras melarangnya. Sehingga tidak ada usaha untuk dapat menghindari kritik bila harus terjadi atas perilaku seseorang.

Kiranya dapat dimengerti bila golongan Sunni dimasa lampau takut dan menghindarkan diri dari sebutan Syiah oleh pemerintahan Dinasti Umayyah (yang didirikan oleh Muawiyah, seteru Ali dalam konflik politik, dimana faksi Syiah menganggap bahwa pemerintahan yang seharusnya dipegang oleh Dinasti Ali telah dirampas secara tidak sah oleh Dinasti Umayyah). Namun sikap serupa mestinya tidak perlu lagi berlanjut. Sementara itu, meskipun serangan Syiah terhadap Abu Bakar, Umar dan Usman dahulu secara psikologis dapat dijelaskan, namun sekarang sudah tidak akan relevan lagi.

Akomodasi Sunni-Syiah

Semua muslim, baik Sunni maupun Syiah dan pemeluk Islam lainnya haruslah tunduk pada prinsip ajaran-ajaran al Quran dan Sunnah. Firman Allah dalam al Quran surah al Maidah: 8 “Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.”

Tanda-tanda saling mendekati antara Sunni dan Syiah sudah mulai nampak pada beberapa dasawarsa terakhir. Patut dihargai inisiatif beberapa Penerbit Lubnan yang memperkenalkan karya-karya modern dari para Imam Syiah dari Irak dan Lubnan dikalangan masyarakat Arab Muslim.

Diantara mereka yang terkenal, terdapat Jawad Mughniya, al Amili, Mahdi Shamsuddin dan Fadlullah. Karya-karya yang bernilai dari Khomeini, Baqir al Sadr dan Ali Shariati telah mengilhami banyak pemuda Syiah maupun Sunni. Dikalangan Sunni, Muhammad Abu Zahra, seorang Ulama terkenal di Mesir, menulis dua jilid buku yang sangat menarik tentang Imam Zaid dan Ja’far Sadiq.

Sebuah buku singkat ditulis oleh seorang Imam Syiah dari Irak dalam bahasa Arab berjudul “Kasshif al Chitaa” (Menyingkap Tabir Penutup). Kitab ini menjelaskan secara ringkas asal usul dan dasar-dasar ajaran Syiah. Sebuah awal yang baik untuk mengerti lebih baik.

Sebuah Lembaga didirikan di akhir tahun 1940 di Kairo, Mesir. Lembaga yang bernama Darut Taqrib Bayn al Madzahib al Islamiyah (Badan Bersama Mazhab-mazhab dalam Islam) bertujuan meningkatkan usaha pendekatan antara Mazhab-mazhab yang ada dalam Islam dan secara khusus menjembatani jurang antara Sunni dan Syiah.

Dalam beberapa kegiatannya, Lembaga ini mengundang para Imam Syiah dari Irak seperti Ayatullah al Khalisi untuk berkunjung ke Mesir dan memberikan ceramah-ceramah di Masjid-masjid.

Revolusi Islam di Iran nampaknya akan menjadi nyala api yang mampu membabat rintangan psikologis dan doktrinal antara Syiah dan Sunni. Tetapi Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran (yang merupakan konstitusi versi Syiah) telah menimbulkan kekecewaan bagi kalangan Sunni, baik didalam maupun diluar Iran. Sadiq al Mahdi mengungkapkan hal ini dalam sebuah tulisan di Harian al Sharq al Awsat. Pertentangan dengan bangsa Kurdi, yang terkadang memang dihembuskan oleh para Ulama Sunni, membuat suasana menjadi bertambah suram.

Kampanye anti Iran oleh pers Barat, kemudian politik dalam dan luar negeri Iran yang tidak menentu, telah membingungkan para Ulama dan Masyarakat Sunni.

Kaum Sunni di Suriah dan negara-negara muslim lain telah melangkah setapak untuk mengerti Syiah lebih baik. Mereka amat terkesan dengan usaha pendekatan yang dilakukan Khomeini, yaitu mendekatkan karyanya “Wilayatul Faqih” (tentang tanggung jawab dan kewenangan Ulama dalam sebuah Negara Syariah / Negara Islam) dengan pendapat Shariati tentang sumbangan Islam pada masyarakat kontemporer. Tetapi satu hal yang disesalkan kaum Sunni dimana Iran mencela Ikhwanul Muslimin yang justru bangga dan mendukung sepenuhnya keberhasilan Revolusi Islam di Iran.

Dituntut upaya yang tulus dari kedua belah pihak untuk menyingkirkan rintangan historis antara Sunni dan Syiah yang merupakan salah satu penghalang utama bagi terwujudnya Ukhuwah Islamiyah saat ini. Seluruh Ulama Muslim baik Sunni maupun Syiah diharapkan dapat meluruskan kembali dengan jujur dan tepat warisan sejarah dan ajaran mereka. Biarkanlah ajaran Islam dan kebersamaan umat dapat tumbuh subur diatas kefanaan sejarah yang saling tumpang tindih.

Khomeini adalah seorang Ulama pelopor yang mampu mengguncangkan Syiah keluar dari stagnasi jaman, yang selama ini sedang menunggu kembalinya Imam terakhir yang akan menyelamatkan mereka dari keadaan yang serba kekurangan dan ketidak adilan.

Dengan kharisma yang ada, Khomeini seharusnya membuat kepeloporan baru dengan menyingkirkan rintangan sejarah yang memisahkan Syiah dan Sunni. Hal tersebut adalah sejalan dengan ajaran Islam dan tuntutan Dunia Islam dewasa ini sekaligus akan meninggikan citra Islam.

Allah berfirman dalam al Quran surah Ali Imran: 103-105 “Dan berpegang teguhlah kamu semua (Umat Islam) kepada Tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadamya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by syiahislam pada April 11, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.